“Kesenian Bantengan, Salah Satu Kearifan Lokal Magis di Pasuruan“
Kesenian Bantengan di Pasuruan sudah ada sejak era Kerajaan Singhasari, awalnya sebagai bagian dari ritual keagamaan dengan pengaruh pencak silat, serta topeng kepala banteng sebagai simbol kekuatan. Kesenian Bantengan merupakan warisan hidup, yang kemudian tersebar di banyak daerah terutama di lereng pegunungan Jawa Timur, seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, hingga Pasuruan (khususnya desa di wilayah lereng Gunung Arjuno‑Welirang).
Pertunjukan Bantengan dijalankan oleh dua orang. Dua orang tersebut akan menjadi tubuh banteng. Pemain depan akan menjadi kepala dan kaki depan. Pemain belakang akan menjadi ekornya. Kedua pemain Bantengan tersebut dibalut kain hitam dan topeng kepala banteng. Para pemain juga terkadang memadukan kesenian Bantengan ini dengan beladiri silat selama pertunjukan. Irama musik gamelan, kendang, gong, dan jidor menciptakan atmosfer yang bersifat dramatis. Alunan juga dilengkapi dengan nyanyian syair atau mantra sebelum dan selama pertunjukan berlangsung.
Konsep trans atau kesurupan oleh roh leluhur banteng menampilkan dimensi mistis dan magis. Konsep ini dipercaya menghubungkan spiritualitas dengan masyarakat. Filosofi gerakan dan pengaduan Banteng menyimbolkan keberanian, persaingan sehat, gotong royong, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan hidup .
Bantengan merepresentasikan komunitas dan kebersamaan. Sifat dalam komunitas dan kebersamaan inilah yang mirip dengan sifat banteng yang suka hidup berkelompok. Nilai moral dan religius juga terkandung dalam kesenian Bantengan ini. Contoh nilai tersebut adalag tanggung jawab, keindahan, kebaikan, dan penghormatan kepada leluhur. Penghormatan kepada leluhur tersebut dapat dilihati melalui ritual, doa, dan prosesi dalam pertunjukan tersebut.
Pada tahun 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Bantengan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Di Pasuruan sendiri, terdapat grup Kesenian Bantengan seperti Budi Mulyo di Prigen. Grup Kesenian Bantengan ini telah aktif mendigitalisasi dan mempromosikan seni ini melalui dokumentasi oleh KKN dan masyarakat lokal Pasuruan. Bantengan berkontribusi pada ekonomi kreatif dengan menciptakan lapangan kerja dari pembuatan kostum, alat musik, pelatihan generasi muda, serta potensi wisata budaya dan festival lokal seperti di Nongkojajar.
Generasi muda kini mulai kehilangan minat terhadap tradisi Kesenian Bantengan ini. Untuk menjaga keberlanjutan kesenian ini, diperlukan dukungan komunitas, pemerintah daerah, digitalisasi konten edukatif, dan regenerasi pemain serta dalang.
Dari wacana tersebut dapat disimpulkan bahwa tradisi Bantengan di Pasuruan, khususnya di wilayah pegunungan seperti Prigen (termasuk Nongkojajar, Purwosari, Sukorejo, Purwodadi), adalah warisan budaya yang kaya nilai spiritual, filosofis, dan sosial. Seni ini menggabungkan tari, bela diri, ritual keagamaan, dan elemen mistis. Pengakuan nasional dan partisipasi aktif kelompok lokal seperti Budi Mulyo menunjukkan bahwa Bantengan tidak hanya hiburan rakyat, tapi aset ekonomi kreatif yang berpotensi besar. Untuk mentransformasikan warisan ini ke masa depan, regenerasi, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor sangat penting, agar generasi mendatang tetap memahami, menghargai, dan mampu melestarikannya.

Komentar
Posting Komentar